Bandoeng tahun 1825

Di jaman kepemimpinan bupati R.A. Wiranatakoesoemah III, ibukota kabupaten dipindahkan ke tengah kota Bandung saat ini. Pemerintahan Belanda kemudian menjadikan kota Bandung ibukota karesidenan Priangan yang sebelumnya berada di Cianjur.  Kini sebagian orang menganggap Bandung sudah terlalu padat, macet, dan tidak lagi sejuk,pembangunan demi pembangunan dilakukan, yang seringkali memicu kontroversi

Bupati Bandoeng ” R.A. Wiranatakoesoemah III ( 1829 - 1846 )

BMC 1920-an

 Kota ini pada zaman dahulu dikenal sebagai Parijs van Java atau “Paris dari Jawa”. Karena terletak di dataran tinggi, Bandung dikenal sebagai tempat yang berhawa sejuk. Hal ini menjadikan Bandung sebagai salah satu kota tujuan wisata.  Yang menarik perhatian dari kota ini adalah, Bandung memiliki banyak sekali bangunan-bangunan tempo dulu yang hingga saat ini masih bisa dinikmati. Meski banyak yang sudah berubah fungsi, namun ciri khas arsitektur zaman Belanda masih melekat erat pada bangunan-bangunan tersebut.
Bangunan yang hingga saat ini masih memiliki bentuk yang sama dengan tempo dulu.

Grand Hotel Homann Bandoeng 1920-an

Mojang Bandoeng 1920-an

Patwal mbl jenazah 1920-an

Pedagang air sirup keliling 1920-an

Pedagang kue basah keliling 1920-an

Gedung sate 1924

Bragaweg ke arah selatan 1930-an

Grove Postweg di timur Alun-alun Bandoeng 1930-an

Jln Tamblong Bandoeng 1930-an

Naripanweg 1930-an

Pasar Baroeweg Bandoeng 1930-an

Pedagang kue 1930-an

Mojang Bandoeng 1940-an

Gedung sate 1950

Gedung-gedung yang memiliki nilai sejarah serta catatan sejarah penting harus dirawat dan dilestarikan dengan baik. Jangan sampai anak cucu kita nanti tidak tahu bahwa kota ini memiliki sejarah yang luar biasa penting.

Pusat kota bandung sekarang adalah tempat cikal bakal berdirinya kota bandung modern. Sebelumnya tempat tersebut hanyalah salah satu tempat perlintasan transportasi di pulau jawa saja. Hingga salah seorang jendral belanda pada jaman penjajahan, saat itu meminta untuk dibangunkan sebuah kota yang dimulai dari titik yang sekarang dikenal sebagai titik 0 kilometer di kawasan jalan Asia Afrika Bandung. Posisi bandung yang strategis, udara sejuk, dan penduduk yang ramah mempercepat perkembangan Bandung dipenuhi fasilitas-fasilitas sebuah kota modern khas Eropa. Dua hotel berbintang lima kelas presiden, Savoy Homan dan Grand Preanger, berdiri, apotek, cafe, bank, dan lainnya.

Hotel Preanger Bandoeng 1950-an

Hotel Savoy Homann 1950-an

Jln Raya Timur Bandoeng 1950-an

Klitikan 1950

impang jln Naripan & jln Braga ke arah utara 1950-an

Alun-alun Bandoeng 1953-an

Jln Braga 1954

Jln Suniarradja 1955

Pedagang kue basah

Pedagang nasi & Soto keliling